Autokritik terhadap Optimisme Deep Learning: Realitas di Balik Janji Perubahan

 Oleh Widodo*

 Deep Learning (DL) atau sekarang lazim disebut Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan penguasaan kompetensi abad ke-21 sudah menerima sambutan hangat di seantero negeri, paling tidak itu yang tampak di media massa. Optimisme ini didorong oleh praktik baik dari negara-negara maju dan janji untuk meningkatkan literasi, numerasi, serta kemampuan berpikir kritis murid di Indonesia. Namun, optimisme harus diiringi dengan realitas terhadap kesiapan struktural di lapangan. Sejauh mana kesiapan kita menerapkan Deep Learning secara efektif masih menjadi pertanyaan besar, terutama karena tantangan mendasar yang menghambat implementasi.

Tantangan pertama yang menghambat adalah kesenjangan ekonomi dan sosial (Zamjani, 2024). Kondisi gizi, kesehatan, dan tekanan ekonomi peserta didik berperan besar dalam kemampuan mereka mengikuti pembelajaran mendalam. Ibarat membangun menara di atas fondasi pasir, fokus pada Higher Order Thinking Skills (HOTS) hanya akan berhasil jika kebutuhan dasar murid terpenuhi terlebih dahulu (Ika Sari et al., 2024). Meskipun pemerintah telah berupaya mengatasi masalah ini melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), inisiatif ini sering kali menghadapi masalah logistik, anggaran dana yang masif, bahkan kasus keracunan di beberapa daerah, yang menunjukkan bahwa pembangunan fondasi kesejahteraan terpadu masih jauh dari sempurna.

Kedua, ada isu krusial mengenai kesiapan dan kesejahteraan guru. Guru merupakan kunci keberhasilan Deep Learning; mereka harus kreatif, termotivasi, dan mampu berinovasi. Namun, tanpa kesejahteraan dan pelatihan memadai, guru cenderung kembali ke metode pembelajaran tradisional yang bersifat hafalan (Surface Learning). Kondisi guru dianalogikan seperti mesin yang kering pelumasnya jika tidak dibekali dukungan yang cukup (Mason Englewood, 2025). Walaupun program pelatihan guru seputar Pembelajaran Mendalam (DL) sudah dilakukan, pelatihan tersebut seringkali menghadapi masalah implementasi di lapangan dan kurangnya keberlanjutan (Doug Liles, 2025). Belum lagi, biaya pelatihan ini sebesar 2-3 juta per orang, yang diambil dari dana BOS, maka tak sedikit mempertanyakan efisiensinya. Demikian pula, meskipun ada upaya menyejahterakan guru, masalah beban administratif yang tinggi seringkali menghambat guru untuk fokus pada inovasi pembelajaran. Coba kita refleksi, adakah tugas administratif yang berkurang setelah pendekatan deep learning ini dipakai di semua sekolah dibanding sebelum kebijakan ini berlaku? Atau kita sibuk ikut workshop, dari pelatihan satu ke pelatihan lain, yang topiknya hampir sama, tapi produknya berbeda bergantung selera pematerinya.

Terakhir, kendala terletak pada sistem dan infrastruktur pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat dan aturan sekolah yang kaku menghambat praktik pembelajaran kreatif dan mandiri (Askari et al., 2024). Deep learning ini angin segar, jika guru mau menerapkan. Apakah dikira sebelum mendikdasmen yang sekarang ini kita belum “mendalam”? belum enjoyfull learning? Coba cermati lagi berapa mata pelajaran di sekolah, adakah mempertimbangkan aspek esensial, atau kita masih ingin menguasai semua ilmu, ada koding dan kecerdasan artifisial, lalu kabarnya mau ada pelajaran bahasa Portugis. Memangnya berapa jam kita di sekolah (baca: gedung sekolah), bukankah kita akan terjebak lagi ke hafalan karena kurikulum yang padat dan berorientasi teori, sehingga murid dan guru kehilangan ruang untuk berpikir kritis, bereksperimen, dan memahami makna belajar yang sesungguhnya. Akibatnya, sekolah melahirkan lulusan yang unggul di skor, tapi lemah dalam keterampilan praktis, kreativitas, dan pemecahan masalah. Untuk memperbaikinya, kurikulum harus disederhanakan, berfokus pada konsep inti, serta memberi ruang bagi pembelajaran yang interaktif, mendalam, dan relevan agar pendidikan benar-benar menyiapkan generasi yang adaptif dan berdaya saing di dunia nyata. Penelitian menunjukkan bahwa perlunya pelatihan berkelanjutan, data imbalance, dan keterbatasan fasilitas menjadi hambatan utama dalam adaptasi Deep Learning secara optimal (Mason Englewood, 2025). Selain itu, kesenjangan akses teknologi di wilayah terpencil membuat penerapan Deep Learning tidak merata.

Autokritik ini mendorong perlunya solusi radikal untuk mengakselerasi Deep Learning. Pembangunan fondasi kesejahteraan terpadu, seperti investasi pada kesehatan dan kondisi psikologis murid, menjadi langkah awal krusial agar pembelajaran HOTS dapat berjalan efektif. Kemudian, reformasi profesionalitas dan kesejahteraan guru harus dilakukan dengan menyediakan pelatihan masif dan berkelanjutan, diikuti dengan kenaikan kesejahteraan dan pengurangan beban administratif. Selanjutnya, perlu ada revisi kurikulum dan kebijakan sekolah untuk menyederhanakan materi, memberi ruang pada pemahaman konsep ketimbang hafalan, dan melibatkan murid dalam menyusun aturan untuk menciptakan suasana pembelajaran mandiri. Akhirnya, pengembangan infrastruktur teknologi merata adalah kunci agar semua murid dan guru dapat mengakses sumber belajar berbasis teknologi dan AI, selaras dengan visi Deep Learning sebagai pembelajaran personal.

Tanpa fondasi yang kuat pada aspek sosial dan kesiapan guru serta sistem, Deep Learning berisiko menjadi hanya jargon tanpa hasil nyata. Dengan solusi radikal yang mengintegrasikan kesejahteraan sosial, reformasi profesional guru, revisi kebijakan, dan pemerataan teknologi, janji Deep Learning dapat terwujud menjadi peningkatan mutu pendidikan yang nyata dan merata di Indonesia.

 Referensi:

Askari, F., Javadipour, M., Hakimzadeh, R., & Salehi, K. (2024). Identifying the Dimensions and Characteristics of Overloaded Curriculum in the Primary Education. Journal of Research in Educational Systems, 17(63), 34–48. https://doi.org/10.22034/JIERA.2024.420665.3058

Doug Liles. (2025). Expert Insights: Overcoming Challenges in Deep Learning Education. https://dlearnai.com/blog/expert-insights--overcoming-challenges-in-deep-learning-education

Ika Sari, G., Winasis, S., Pratiwi, I., Wildan Nuryanto, U., & Basrowi. (2024). Strengthening digital literacy in Indonesia: Collaboration, innovation, and sustainability education. Social Sciences and Humanities Open, 10(May), 101100. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2024.101100

Mason Englewood. (2025). Deep learning in indonesian education: Transforming learning landscapes. https://www.byteplus.com/en/topic/423013?title=deep-learning-in-indonesian-education-transforming-learning-landscapes

Zamjani, I. (2024). Indonesia’s Challenges in Tech and Learning Equity for Teachers. Pskp. https://pskp.kemdikbud.go.id/gagasan/detail/indonesias-challenges-in-tech-and-learning-equity-for-teachers

 

 *Penulis: Widodo, guru SMAN 13 Semarang

Doktor Manajemen Kependidikan

 

Tugas informatika kelas XII F1, F2, F3, F4


 Assalamu'alaikum.

Semoga sehat dan bahagia.

Mohon mengerjakan AKTIVITAS 1 hal 17 (cek di LKS)

Berkelompok 2 orang.

Di lembaran kertas atau boleh via infografis/PPT/flipp book

Jika belum selesai, kerjakan dihari berikutnya.

Ketua kelas japri melaporkan kehadiran di https://bit.ly/jurnal_KKA_Informatika_widodo_25_26


Bisa hub pakwid by chat WA

Apakah Kita Guru yang Berhasil?

 

Dalam era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, peran guru menjadi semakin penting dan kompleks. Guru sekarang dihadapkan pada tantangan baru yang disebabkan oleh perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Untuk menjawab pertanyaan apakah kita guru yang berhasil, perlu dilihat ciri-ciri khas dari era ini, pentingnya soft skill, dan peran kita sebagai pendidik dalam membentuk generasi yang berkualitas.

 Guru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan internet of things. Guru sekarang dihadapkan pada tuntutan untuk menguasai teknologi ini agar dapat memberikan pembelajaran yang relevan dan inovatif. Selain itu, era society 5.0 menekankan peran manusia dalam mengelola teknologi untuk kebaikan sosial. Guru perlu mengembangkan keterampilan kolaborasi, pemecahan masalah, dan kreativitas agar dapat membimbing siswa dalam menghadapi tantangan masa depan.

 Pentingnya Soft Skill

Penelitian dari Harvard dan Universitas Indonesia menunjukkan bahwa 85% kesuksesan seseorang ditentukan oleh soft skill, bukan hanya hard skill. Soft skill melip
uti keterampilan interpersonal, komunikasi, kepemimpinan, dan adaptabilitas. Oleh karena itu, sebagai guru, penting bagi kita untuk mengembangkan soft skill siswa agar mereka siap menghadapi dunia kerja yang berubah dengan cepat dan kompleks.

Mencipta Individu yang Lengkap

Kodrat zaman tidak hanya mengenai mencari pekerjaan atau profesi, tetapi juga tentang integritas, kepribadian, dan kecerdasan sosial kita. Sebagai guru, tugas kita bukan hanya menciptakan "robot pekerja" yang hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga individu yang memiliki nilai-nilai etika, empati, dan kemampuan bergaul dengan orang lain. Kita harus mengajarkan siswa untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, dan memiliki tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar mencari uang.

 Tantangan dan Kenyataan di Dunia Pendidikan

Namun, dalam menjalankan peran sebagai guru, kita menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah ketidaknyamanan siswa dalam belajar di sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh metode pembelajaran yang monoton atau kurang interaktif. Selain itu, ada juga masalah sikap siswa yang lemah meskipun memiliki skor nilai yang tinggi, kurangnya kepedulian terhadap lingkungan, dan orientasi siswa yang lebih fokus pada pencapaian finansial daripada pengembangan diri secara menyeluruh.

Di sisi lain, pekerjaan guru juga semakin kompleks dengan tugas administratif yang memakan waktu. Waktu yang dihabiskan untuk tugas administratif mengurangi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan siswa dan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih inovatif. Hal ini dapat menghambat keberhasilan kita sebagai guru dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas.

Untuk mengatasi tantangan ini, penting bagi kita sebagai guru untuk terus mengembangkan diri, mengikuti perkembangan terkini dalam pendidikan, dan mencari solusi yang inovatif. Kolaborasi antar guru, partisipasi dalam seminar dan pelatihan, serta pemanfaatan teknologi dalam tugas administratif dapat membantu mengoptimalkan peran kita sebagai pendidik.

Dalam kesimpulannya, menjadi guru yang berhasil tidak hanya berdasarkan pada keberhasilan akademik siswa, tetapi juga pada perkembangan soft skill, integritas, dan kecerdasan sosial mereka. Meskipun kita menghadapi berbagai tantangan di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, dengan komitmen dan inovasi dalam pendidikan, kita dapat menciptakan generasi muda yang tangguh, berkualitas, dan siap menghadapi masa depan yang penuh dengan perubahan dan tantangan.

 Referensi:

 Harvard GraduateSchool of Education. (2017). Soft Skills and Technical Skills: What Employers Value Most. Diakses dari: https://www.gse.harvard.edu/news/uk/17/11/soft-skills-and-technical-skills-what-employers-value-most

Wibowo, A. (2020). The Importance of Soft Skills to Enhance Employability: A Study of Fresh Graduates in Indonesia. Jurnal Humaniora, 9(2), 201-211.

Pembekalan Narasumber Berbagi praktik Baik 2023

 Romadhon semakin berkah, 12-15 April 2023 saya berkesempatan untuk mengikuti pembekalan calon narasumber berbagi praktik (NSBPB) angkatan 3. Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Besar guru Penggerak (BBGP) Jawa Tengah. Kegiatan berlangsung secara full daring dari jam 07.30 hingga 15.30 WIB.


Narasumber Berbagi Praktik Baik adalah guru, tutor, kepala sekolah/satuan pendidikan pada satuan pendidikan yang sudah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka atau prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dan telah diseleksi. Selain itu, sekolah/satuan pendidikan tersebut juga memiliki praktik baik dalam penerapan Kurikulum Merdeka untuk dibagikan kepada satuan pendidikan lainnya atau komunitas belajar, baik secara luring maupun daring. NS BPB memiliki tugas untuk membagikan praktik baik implementasi Kurikulum Merdeka sebagai inspirasi kepada sekolah lain yang akan menerapkan IKM jalur mandiri, bukan mengajarkan substansi Kurikulum Merdeka.

Dalam kegiatan tersebut kami dibekali beberapa materi dan penguatan seperti: 1) Kerangka berbagi dengan video dan cerita, 2) penulisan konsep praktik baik, 3) pembelajaran andragogi, 4) refleksi dan umpan balik, 5) tindak lanjut program, 6) pemahaman terhadap kurikulum merdeka. 

Sejumlah lembar kerja kegiatan (LK) kami tuntaskan, dan pada gilirannya nanti, kami harus mengupload tugas berupa cerita praktik baik dan video praktik baik. Untuk dapat menjadi narasumber, karya praktik baik yang kami upload harus lolos kurasi tim kemendikbud. Semoga Kami dapat berperan sebagai narasumber berbagi praktik baik yang turut menyukseskan transformasi pendidikan Indonesia.

Memory 17 April menjelang idul fitri

Senin ini memasuki romadhon ke 26, dan aku masih penuh dengan tugas-tugas di sekolah. Tahun ini terasa berbeda, masa pandemi sudah terlewati, bersiap untuk mudik. Mulai membayangkan bertemu orangtua, kerabat dan kawan lama. Kami melewati banyak moment bersama.

Puasa romadhon terasa ringan di penghujung bulan, mengapa? sudah membayangkan gegap gempita perayaan idul fitri. Hari ini kami masih belajar dan terus belajar.


Autokritik terhadap Optimisme Deep Learning: Realitas di Balik Janji Perubahan

  Oleh Widodo*   Deep Learning (DL) atau sekarang lazim disebut Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai pendekatan pembelajaran yang menekanka...